Sarung Tangan Operasi

Sarung tangan operasi atau disebut juga dengan surgical gloves merupakan sarung tangan steril yang digunakan pada saat tindakan operatif. Sarung tangan ini harus benar-benar dalam keadaan steril karena tindakan operasi atau tindakan pembedahan merupakan tindakan yang memerlukan tingkat kesterilan alat dan bahan yang sangat tinggi. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghindari terjadinya infeksi yang diakibatkan oleh alat atau pun bahan yang di gunakan pada saat tindakan operatif. Maka dari itu setiap anggota tim operasi wajib menggunakan sarung tangan yang bersifat steril ini.


Sarung Tangan Operasi
sarung tangan suntouch


Proses Pembuatan Sarung Tangan Operasi dari Lateks Alam dalam Skala Rumah Tangga

Proses pembuatan sarung tangan operasi dari lateks alam iradiasi pada umumnya menggunakan teknik pencelupan penggumpalan, dengan larutan kalsium nitrat 30% sebagai bahan penggumpal, dan kadar padatan lateks 50%. Dengan menggunakan kondisi tersebut sarung tangan operasi yang dihasilkan setelah dicuci dengan air panas disamping kualitasnya memenuhi standar ASTM, juga terbukti mengandung protein larut air lebih rendah daripada sarung tangan bedah lokal atau import.

Terdapat perbedaan dalam proses pencelupan untuk membuat sarung tangan bedah dalam skala rumah tangga dan skala pabrik. Perbedaan pertama dengan menggunakan lateks alam radiasi senyawa karbamat tidak dipakai, kedua dengan menggunakan lateks alam iradiasi pemanasan cukup dengan udara bebas, karena fungsi pemanasan disini hanya untuk menghilangkan air. Sedangkan bila menggunakan lateks alam vulkanisasi belerang, disamping menggunakan senyawa karbamat dan sebagainya, pemanasan harus dilakukan pada suhu 100°C, karena' fungsi pemanasan untuk vulkanisasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses vulkanisasi radiasi hemat bahan kimia dan energi panas.

Bentuk cetakan yang digunakan dalam membuat sarung tangan bedah terdapat 2 bentuk cetakan. Yaitu cetakan yang pertama merupakan cetakan sarung tangan yang bila dipakai taangan akan terasa lebih enak dan cetakan kedua ialah cetakan tangan yang dipakai akan terasa terjepit.

Cetakan sarung tangan dapat dibuat dari bahan porselin, aluminium, fiber glas, atau kayu. Masing-masing cetakan tersebut punya kelemahan dan kelebihan misalnya porselin mudah dibersihkan dan tahan panas, tetapi tidak tahan asam atau basa dan mudah pecah. Berbeda halnya dengan aluminium yang mudah dibersihkan tidak mudah pecah, tahan panas tetapi tidak tahan asam, sementara itu fiber glas tidak mudah pecah, tahan asam dan basa, tetapi tidak tahan panas, sedangkan eetakan dari kayu tidak mudah pecah tetapi tidak tahan asam, basa dan panas. Oleh karena proses pembuatan sarung tangan bedah dari lateks alam iradiasi tidak memerlukan panas, maka cetakannya dibuat dari fiber glas. Selanjutnya untuk membersihkan cetakan digunakan 3 macam sabun yaitu sabun anion, sabun kation, dan sabun netral. Untuk menguji cetakan bersih atau tidak, maka cetakan tersebut diulas dengan bahan penggumpal yang akan digunakan. Cetakan dikatakan bersih bila bahan penggumpal yang menempel dipermukaannya rata dan tidak terjadi pemisahan, sehingga bila dicelupkan ke lateks maka sarung tangan yang dihasilkan rata.

Setelah di cetak sarung tangan tersebut di celupkan kedalam cairan atau larutan penggunmpal. Keceepatan penarikan 50 m/menit, kemudian setelah sampai ditelapak tangan kecepatan penarikan dikurangi menjadi 0,1 m/menit, tebal sarung tangan diseluruh permukaan lebih merata daripada kecepatan penarikan langsung 50 m/menit, atau 0,10 m/detik saja. Hal ini disebabkan karena adanya kompetisi pembekuan lateks antara aliran lateks akibat gaya gravitasi pada kecepatan penarikan tinggi dan rendah dengan penetrasi bahan penggumpal ke dalam lapisan lateks yang berada diudara. Bila kecepatan penarikan tinggi (50 m/menit) maka lateks yang menempel di cetakan lebih banyak, tetapi konsekuensinya akan lebih banyak lateks mengalir ke bawah, sementara itu penetrasi bahan penggumpal ke dalam lateks lebih rendah. Akibatnya bagian bawah (jari-jari) lebih tebal daripada bagian atas (pergelangan tangan). Bila kecepatan penarikan rendah (0,1 m/menit) maka waktu penetrasi bahan penggumpal ke dalam lateks yang menempel pada bagian bawah cetakan (jari-jari tangan) lebih banyak akibatnya bagian bawah lebih tebal dari bagian alas. Selanjutnya apabila kedua keeepatan tersebut dikombinasikanyaitu pertama kecepatannya 50 m/menit sampai telapak langan, kemudian kecepatan penarikan diturunkan menjadi 0,1 m/menit maka didapat tebal film karet diseluruh permukaan sarung tangan bedah yang relatif lebih merata.





Oleh : dokter Rifa
Sumber :

  • e-journal.com




Terima kasih untuk Like/comment FB :